{"id":635,"date":"2026-08-10T23:19:03","date_gmt":"2026-08-10T23:19:03","guid":{"rendered":"https:\/\/m3caai.com\/?p=635"},"modified":"2026-08-10T23:19:03","modified_gmt":"2026-08-10T23:19:03","slug":"s1q1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/2026\/08\/10\/s1q1\/","title":{"rendered":"Dari IPK dua koma hingga Publikasi Q1: Perjalanan Empat Tahun Menemukan Passion di Fisika Eksperimen"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh: Muhammad Fauzan\u00a0Adhiima<\/p>\n\n\n\n<p>Publikasi terbaru kami, &#8220;Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe-Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role of punch-contact topology&#8221;, resmi diterbitkan di Powder Technology pada 4 Agustus 2026. Jurnal ini merupakan salah satu jurnal Q1 di Elsevier yang menjadi rujukan utama komunitas riset powder physics dan granular materials di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun sebelum masuk ke cerita 14 bulan perjalanan riset ini, saya ingin menceritakan perjalanan yang jauh lebih panjang, empat tahun ke belakang, sejak pertama kali menginjakkan kaki di ITB. Karena publikasi ini bukan hasil dari mahasiswa yang selalu unggul sejak awal. Sebaliknya, ini adalah hasil dari mahasiswa yang IPK-nya <strong>dua koma <\/strong>pada TPB, hampir mengulang mata kuliah, dan sempat kehilangan arah tentang kenapa memilih fisika.<\/p>\n\n\n\n<p>Baca paper lengkap di: <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.powtec.2026.123056\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.powtec.2026.123056<\/a>    \u00a0<a href=\"https:\/\/kwnsfk27.r.eu-west-1.awstrack.me\/L0\/https:%2F%2Fauthors.elsevier.com%2Fa%2F1nZo47QGmXpLp\/1\/0102019fddbdc3cc-edf8dcb5-c247-4cf7-81f6-08c3e5f0e05f-000000\/9x3tKrI8lvPIMNgEr66qasNMKlk=473\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">50 days free acces<\/a><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"691\" data-id=\"637\" src=\"https:\/\/m3caai.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/CAAI-Fauzan1-1024x691.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-637\" srcset=\"https:\/\/m3caai.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/CAAI-Fauzan1-1024x691.jpeg 1024w, https:\/\/m3caai.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/CAAI-Fauzan1-300x203.jpeg 300w, https:\/\/m3caai.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/CAAI-Fauzan1-768x518.jpeg 768w, https:\/\/m3caai.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/CAAI-Fauzan1-1536x1037.jpeg 1536w, https:\/\/m3caai.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/CAAI-Fauzan1.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Tahap Persiapan Bersama: Ketika Rasa Minder Mengalahkan Semangat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ketika saya masuk ITB pada 2022, saya membawa perasaan yang mungkin dialami banyak mahasiswa baru: minder. Merasa bahwa saya berkuliah di kampus yang terlalu tinggi untuk kemampuan saya. Teman-teman di sekitar terasa jauh lebih siap, jauh lebih pintar, jauh lebih tahu apa yang mereka mau.<\/p>\n\n\n\n<p>TPB seharusnya menjadi masa transisi dari SMA ke kuliah, waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme akademik ITB. Bagi saya, ini justru menjadi masa survival. Gap pengetahuan yang saya bawa dari SMA terasa jauh dari standar ITB, dan saya belum menemukan alasan yang cukup kuat mengapa saya memilih Fisika. Fisika bukan pilihan pertama saya, dan saya masuk sebagai pilihan kedua. Dasar sains saya juga lemah dibanding teman-teman yang datang dengan bekal olimpiade atau sekolah sains yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasilnya bisa ditebak: IPK <strong>dua koma<\/strong>, dan hampir mengulang mata kuliah. Semester pertama saya berakhir dengan IP 2.39. Ini bukan angka yang membanggakan untuk mahasiswa ITB manapun, apalagi untuk seseorang yang harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia layak berada di sini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Tingkat Dua: Titik Terberat, tapi Juga Titik Balik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tingkat kedua justru lebih berat. Mata kuliah semakin intense secara akademik, dan teman-teman di sekitar saya semakin fokus pada fisika teoretis. Sementara saya, terus terang, belum menemukan bagian dari fisika yang benar-benar membuat saya semangat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi ada sesuatu yang mulai berubah di semester 4. Saya mengambil beberapa mata kuliah yang berbeda dari yang saya alami sebelumnya: <strong>Sistem Instrumentasi<\/strong> dan Eksperimen Fisika. Untuk pertama kalinya sejak masuk ITB, saya merasa hidup di dalam kelas.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan karena mata kuliahnya lebih mudah, tetapi karena saya menemukan bahwa fisika lebih mudah saya pahami ketika saya bisa memegangnya, mengukurnya, membangunnya. Soal-soal textbook yang selama ini terasa abstrak tiba-tiba menjadi lebih nyata ketika saya melihat konsep yang sama muncul dalam bentuk sinyal osiloskop, respon sensor, atau data eksperimen yang harus saya interpretasi. Semester 4 adalah semester paling bahagia saya di ITB. IP saya naik ke 3.46 pada semester 5, dan tren ini bertahan sampai sekarang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Semester 5 dan Seterusnya: Menemukan Bentuk Fisika Saya Sendiri<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari semester 5 sampai semester 8, saya semakin menemukan bahwa fisika yang cocok untuk saya bukan fisika yang murni teoretis, melainkan fisika yang bisa saya bangun, saya ukur, dan saya modelkan. Saya mulai enjoy dengan proses eksperimen: dari merancang setup, membangun instrumen, menulis kode akuisisi data, sampai menganalisis hasil dengan komputasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya tidak akan berbohong bahwa saya sudah lihai di semua bidang fisika. Sampai sekarang, mata kuliah seperti fisika kuantum tetap sulit bagi saya karena sifatnya yang abstrak. Tetapi di luar itu, saya sudah cukup enjoy dengan fisika. Saya menemukan bahwa kesenangan saya bukan di rumus yang elegan, tetapi di proses membangun sesuatu yang bekerja.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang membuat saya benar-benar menemukan passion di riset adalah rasa puas ketika kerja keras terbayar. Ketika saya mencoba, gagal, mencoba lagi, gagal lagi, sampai hampir putus asa, lalu tiba-tiba menemukan solusinya. Rasa puas itu hanya bisa dijelaskan ketika kita benar-benar melakukannya sendiri dengan jiwa kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari rasa puas inilah tumbuh rasa penasaran yang lebih dalam. Setiap hasil eksperimen membuka pertanyaan baru. Setiap pertanyaan baru membuat saya ingin mencoba lagi. Sekarang saya tidak ingin berhenti untuk riset. Saya ingin menunjukkan kepada diri saya sendiri, dan kepada siapapun yang membaca ini, bahwa kepuasan dari eksperimen adalah sesuatu yang sangat nyata, dan bahwa saya bisa menyampaikan kepuasan itu dalam bentuk tulisan ilmiah agar orang lain juga bisa merasakannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah yang mendorong saya untuk terus berkontribusi dan melanjutkan studi. Bukan karena saya ingin gelar tambahan, tetapi karena saya ingin terus memuaskan rasa penasaran ini, dan terus merasakan kepuasan membuat sesuatu dengan tangan sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Publikasi di Powder Technology yang akan saya ceritakan di bawah ini adalah satu bukti konkret dari perjalanan itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Awal yang Gagal: Belajar dari Bahan yang Tidak Sesuai<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Riset ini bermula dari eksperimen pengukuran resistivitas listrik pada bubuk logam. Awalnya, saya mencoba melakukan pengukuran pada material yang berbeda dari yang akhirnya kami publikasikan. Setelah beberapa minggu melakukan pengukuran, hasilnya tidak konsisten. Data yang keluar tidak dapat diinterpretasikan dengan model fisika manapun yang saya coba.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah diskusi panjang dengan pembimbing saya, Prof. Muhammad Miftahul Munir, kami memutuskan untuk mengganti material menjadi sistem bubuk Fe-Zn (besi dan seng). Alasannya sederhana: sistem biner Fe-Zn memberikan kontras oksida yang jelas dan geometri kontak yang bisa dianalisis secara sistematis.<\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan ini berarti saya harus mengulang dari nol.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Fase Manual: Juni sampai November \u2014 Enam Bulan Tanpa Otomasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari Juni hingga November 2025, seluruh pengukuran dilakukan secara manual. Tidak ada sistem otomasi. Tidak ada komputer yang merekam data secara terintegrasi. Tekanan pada sampel bubuk dikontrol menggunakan regulator pneumatik biasa yang harus diputar dengan tangan, dan ketebalan sampel diukur satu per satu menggunakan jangka sorong.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap konfigurasi sampel membutuhkan proses yang panjang: menimbang bubuk dengan neraca analitik, menuangkan ke chamber Teflon, menekan dengan tekanan tertentu, mengukur ketebalan, membaca resistansi dari multimeter, mencatat semua data secara manual di buku catatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Enam bulan seperti ini adalah proses yang melelahkan secara fisik dan mental. Repeatability sulit dijaga karena banyaknya faktor manusia dalam setiap pengukuran. Tetapi periode ini juga mengajarkan saya sesuatu yang penting: memahami sistem secara mendalam sebelum mengotomasinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Fase Otomasi: Desember 2025 \u2014 Membangun CAAI 2103<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah cukup memahami perilaku sistem secara manual, pada Desember 2025 saya mulai merancang dan membangun sistem pengukuran otomatis yang kemudian menjadi CAAI 2103 Powder Resistivity\/Conductivity Measurement Apparatus. Sistem ini mencakup beberapa komponen utama: <\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Regulator tekanan elektro-pneumatik SMC ITV1030 yang dikontrol oleh mikrokontroler untuk memberikan kontrol tekanan presisi dari 0 hingga 20 MPa<\/li>\n\n\n\n<li>Sensor pergeseran (displacement sensor) SYNTEK dengan resolusi 1 mikrometer yang terintegrasi ke mikrokontroler untuk pengukuran ketebalan secara real-time<\/li>\n\n\n\n<li>Multimeter Fluke 8808A dengan interface four-wire untuk pengukuran resistansi presisi<\/li>\n\n\n\n<li>GUI Python yang saya bangun sendiri untuk kontrol keseluruhan sistem, akuisisi data, dan validasi kalibrasi enam-titik sebelum setiap eksperimen<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Proses membangun sistem ini melibatkan banyak keterampilan teknis yang harus saya pelajari secara mandiri: desain PCB, mesin bubut untuk komponen mekanik, 3D printing untuk fixturing, dan integrasi Python dengan Arduino untuk komunikasi antara komputer dan hardware.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah proses yang tidak diajarkan secara formal di kelas. Belajar dari YouTube, forum, dan trial-error yang berulang-ulang. Beberapa kali PCB harus dicetak ulang karena kesalahan desain. Beberapa kali komponen mekanik harus dibuat ulang karena toleransi yang tidak pas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Fase Kalibrasi: Januari sampai Maret \u2014 Hampir Menyerah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah CAAI 2103 selesai, muncul masalah baru yang tidak terduga: pengukuran ketebalan tidak valid. Nilai porositas yang dihitung dari data ketebalan tidak konsisten dengan pengukuran porositas dari instrumen lain di lab.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari Januari hingga Maret 2026, tiga bulan penuh saya habiskan untuk mengkalibrasi pengukuran ketebalan. Berbagai pendekatan dicoba: mengubah desain fixturing, menambahkan referensi ketebalan, membandingkan hasil dengan pengukuran manual jangka sorong, memvalidasi dengan pengukuran porositas dari flow porometer.<\/p>\n\n\n\n<p>Titik terendah datang di sekitar Februari-Maret. Data yang saya kumpulkan selama berbulan-bulan seolah tidak dapat digunakan karena masalah kalibrasi yang tidak kunjung terselesaikan. Ada momen di mana saya benar-benar mempertimbangkan untuk membatalkan seluruh proyek dan memulai dengan sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Titik balik datang dari sebuah keputusan pragmatis: tidak menunggu kalibrasi hardware sempurna, tetapi melakukan kalibrasi secara komputasional setelah pengukuran. Saya jalankan pengukuran untuk seluruh konfigurasi sampel, lalu menerapkan koreksi matematis berdasarkan data porositas dari flow porometer sebagai referensi silang.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendekatan ini bukan solusi ideal, tetapi cukup baik untuk menghasilkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kadang dalam riset, &#8220;cukup baik dengan justifikasi yang jelas&#8221; lebih penting daripada &#8220;sempurna tetapi tidak pernah selesai&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Fase Analisis dan Penulisan: Maret sampai Mei<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah data lengkap terkumpul, muncul temuan yang menarik: asimetri resistivitas 56 kali lipat antara konfigurasi Fe-Zn-Fe dan Zn-Fe-Zn, meskipun kedua sampel memiliki komposisi massa yang identik. Perbedaan hanya terletak pada urutan lapisan.<\/p>\n\n\n\n<p>Analisis mendalam menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar efek komposisi, tetapi merupakan konsekuensi dari topologi kontak dan kimia permukaan oksida di titik kontak antara sampel dengan elektroda. Fenomena ini pada dasarnya adalah masalah perkolasi pada jaringan kontak load-bearing.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menjelaskan hasil, kami membandingkan beberapa framework pemodelan: Bruggeman effective medium theory untuk konfigurasi campuran; Series-resistor model untuk konfigurasi berlapis; Model Montes, Murabayashi, Fricke, dan Meyer untuk bubuk logam berlapis oksida. Manuskrip disubmit ke Powder Technology pada 23 Mei 2026.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menjawab Reviewer: Tiga Minggu untuk Menghindari XPS dan TEM<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah proses review, kami menerima komentar reviewer yang meminta karakterisasi tambahan menggunakan XPS (X-ray Photoelectron Spectroscopy) dan TEM (Transmission Electron Microscopy) untuk memvalidasi klaim kami tentang lapisan oksida pada permukaan bubuk. Kedua instrumen ini merupakan alat karakterisasi kelas atas yang hanya tersedia sangat terbatas di Indonesia, dan akses ke sana membutuhkan waktu antre serta koordinasi yang panjang, bisa berbulan-bulan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah tantangan yang membuat saya harus berpikir kreatif. Selama tiga minggu penuh, saya dan tim mencari pendekatan alternatif yang dapat menjawab pertanyaan reviewer tanpa memerlukan XPS atau TEM.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami akhirnya menggunakan kombinasi pemodelan teoretis dengan referensi literatur ekstensif dan data karakterisasi dari instrumen yang tersedia di lab untuk memberikan bukti yang setara secara ilmiah. Argumen kami disusun dengan hati-hati: bukan menghindari pertanyaan reviewer, tetapi menjawabnya dengan bukti yang berbeda tetapi sama-sama valid. Respons ini diterima oleh reviewer, dan manuskrip resmi diterima dan dipublikasikan pada 4 Agustus 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>Pelajaran dari fase ini: keterbatasan fasilitas tidak selalu berarti akhir cerita. Kadang justru memaksa kita mencari cara pembuktian yang lebih elegan dan berbasis pemahaman fisika yang lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Apa yang Saya Pelajari<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kalau harus meringkas perjalanan ini menjadi beberapa poin, ini yang paling penting:<\/p>\n\n\n\n<ol>\n<li>IPK rendah di awal bukan akhir cerita. IP saya <strong>dua koma<\/strong> saat TPB, hampir mengulang mata kuliah. Kalau saya berhenti di titik itu, saya tidak akan pernah menulis paper Q1. Yang penting bukan titik awal, tetapi arah yang kita tuju setelahnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kegagalan awal riset bukan akhir cerita. Material pertama yang saya coba tidak berhasil, dan itu memaksa saya untuk memulai dari nol dengan Fe-Zn. Ternyata, sistem baru inilah yang memberikan temuan yang paling menarik.<\/li>\n\n\n\n<li>Pahami dulu secara manual, baru otomasi. Enam bulan pengukuran manual terasa lambat, tetapi memberi saya intuisi mendalam tentang bagaimana sistem berperilaku. Ketika saatnya membangun CAAI 2103, saya tahu persis apa yang harus diautomasi dan apa yang perlu dijaga.<\/li>\n\n\n\n<li>Perfectionism dapat menghambat progress. Tiga bulan mengejar kalibrasi hardware sempurna hampir membuat proyek berhenti. Solusi pragmatis dengan kalibrasi komputasional ternyata cukup untuk menghasilkan publikasi Q1.<\/li>\n\n\n\n<li>Instrumentasi mandiri memberi kecepatan iterasi. Karena CAAI 2103 dibuat dan dioperasikan di lab sendiri, saya bisa mengubah setup dalam satu hari dan langsung menguji hipotesis. Tidak perlu antre atau menunggu birokrasi alat di tempat lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Reviewer challenging bukan musuh. Pertanyaan reviewer yang meminta XPS dan TEM awalnya terasa berat, tetapi memaksa saya berpikir lebih dalam tentang bagaimana memvalidasi hasil. Solusi alternatif yang kami temukan justru memperkuat argumen paper.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Refleksi untuk Institusi dan Dosen Pembimbing<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kalau saya ditanya apa yang paling membantu saya keluar dari IPK <strong>dua koma<\/strong> dan berakhir dengan paper Q1, jawabannya bukan sekadar &#8220;kerja keras dari diri sendiri&#8221;. Ada peran besar dari dosen pembimbing dan lingkungan lab yang memungkinkan transformasi ini terjadi. Berikut refleksi saya, dengan harapan dapat menjadi masukan konstruktif untuk institusi dan dosen pembimbing lain.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Untuk dosen pembimbing:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Yang paling saya rasakan berguna adalah ketika dosen memberi tantangan yang cukup berat, sambil tetap meyakinkan bahwa saya mampu mengerjakannya. Ada perbedaan besar antara &#8220;kamu harus bisa ini&#8221; dan &#8220;saya percaya kamu bisa mencobanya, mari kita cari tahu bersama&#8221;. Yang kedua jauh lebih memotivasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dosen juga sebaiknya menunjukkan rasa penasaran yang tinggi terhadap topik risetnya sendiri. Kalau dosen terlihat bersemangat tentang pertanyaan yang sedang dia teliti, semangat itu menular. Mahasiswa akan ikut penasaran, ikut ingin tahu jawabannya. Sebaliknya, kalau dosen terlihat hanya menjalani rutinitas, sulit bagi mahasiswa untuk menemukan alasan mengapa dia harus peduli.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan yang tidak kalah penting: dosen harus menemani perjalanan mahasiswa. Bukan hanya memberi tugas dan menunggu hasil, tetapi hadir dalam proses. Diskusi rutin, umpan balik yang konstruktif, dan kesediaan untuk membantu ketika mahasiswa mentok. Perjalanan riset itu berat, dan mahasiswa yang merasa berjalan sendirian akan lebih cepat menyerah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Untuk institusi (ITB dan institusi pendidikan lainnya):<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Institusi perlu memberi <em>encourage <\/em>dalam bentuk penghargaan atau insentif untuk mahasiswa yang menunjukkan rasa penasaran tinggi dan membuat kontribusi nyata untuk sains. Bentuknya bisa bermacam-macam: publikasi paper, produk, prototype, atau kontribusi apapun yang menunjukkan effort di luar rutinitas akademik.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa ini penting? Karena mahasiswa yang produktif sering kali mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan energi. Ketika <em>effort <\/em>itu tidak dilihat, tidak dihargai, motivasi lama-lama akan luntur. Sebaliknya, ketika institusi menunjukkan bahwa <em>effort <\/em>ini dilihat dan dihargai, api rasa penasaran akan semakin membara.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada <em>effort <\/em>kita yang terbayarkan. Bukan selalu dalam bentuk material, kadang cukup dalam bentuk pengakuan bahwa apa yang kita lakukan itu bermakna. <strong>Institusi memiliki peran besar untuk memastikan bahwa mahasiswa yang berjuang di jalur riset merasa <em>effort <\/em>mereka tidak sia-sia.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Saya berharap refleksi ini dapat menjadi masukan yang bermanfaat, bukan hanya bagi ITB tetapi juga bagi seluruh ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia. Kita punya banyak talenta yang siap berkontribusi, dan tugas kita bersama adalah menciptakan lingkungan di mana talenta-talenta ini bisa tumbuh sampai potensi tertingginya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Panggilan untuk Mahasiswa Fisika<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Riset instrumentasi dan <em>powder physics<\/em> tidak membutuhkan modal besar atau fasilitas mewah dari luar negeri untuk menghasilkan publikasi kelas dunia. Yang dibutuhkan adalah kesabaran menghadapi kegagalan berulang, ketekunan untuk memahami sistem secara mendalam, dan kemauan untuk membangun sendiri apa yang tidak tersedia.<\/p>\n\n\n\n<p>Buat teman-teman mahasiswa Fisika yang sedang bingung mencari topik riset, merasa tidak yakin apakah riset di Indonesia bisa &#8220;kelas dunia&#8221;, atau sedang berjuang dengan IPK yang terasa jauh dari ekspektasi: bisa. Perjalanan tidak selalu mulus, tidak selalu cepat, dan sering kali menyakitkan di tengah jalan. Tetapi dengan bimbingan yang tepat, lab yang mendukung eksperimen mandiri, dan kemauan untuk terus mencoba meskipun sering gagal, publikasi di jurnal top-tier adalah tujuan yang realistis, bukan mimpi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau saya, yang IPK-nya <strong>dua koma<\/strong> saat TPB dan masuk fisika sebagai pilihan kedua, bisa sampai di titik ini, saya percaya banyak dari Anda juga bisa. Yang penting adalah menemukan bagian dari fisika yang membuat Anda merasa hidup, dan mengejarnya sampai Anda menemukan kepuasan yang hanya bisa dirasakan lewat kerja keras sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Lab CAAI di Kelompok Keilmuan Fisika Instrumentasi dan Komputasi ITB terbuka untuk kolaborasi dengan mahasiswa yang tertarik pada bidang fisika instrumentasi, granular materials, powder physics, aerosol, membran, dan sistem filtrasi. Fasilitas yang kami miliki (<a href=\"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/products-and-innovation\/\">https:\/\/m3caai.com\/index.php\/products-and-innovation\/<\/a>), termasuk CAAI 2103 Powder Resistivity\/Conductivity Measurement Apparatus yang baru saja divalidasi lewat publikasi ini, memungkinkan seluruh siklus riset \u2014 dari desain apparatus, sintesis material, karakterisasi, hingga publikasi \u2014 dilakukan dalam satu pintu laboratorium.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau ada di antara Anda yang tertarik untuk bergabung, membangun instrumen bersama, dan mendorong batas riset fisika Indonesia, pintu kami terbuka.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Muhammad Fauzan\u00a0Adhiima Publikasi terbaru kami, &#8220;Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe-Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/635"}],"collection":[{"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=635"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/635\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":638,"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/635\/revisions\/638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/m3caai.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}